Kompetensi Pemimpin Visioner


Oleh : Rojikin, Ketua Bidang Kaderisasi DPC PKS Banguntapan



Dakwah memerlukan pandangan yang luas dan jauh ke depan. Perubahan lingkungan strategis, baik di dalam maupun luar negeri, selalu memiliki implikasi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap dakwah. Oleh karena itu dakwah harus selalu memperhatikan situasi dan kondisi yang terus berkembang, tantangan yang terus berubah sesuai perkembangan zaman.
Untuk itulah, organisasi dakwah harus memiliki visi yang jelas, dan diperkuat dengan hadirnya para pemimpin visioner. Organisasi dakwah tidak boleh jumud dan terbelakang karena tidak memiliki visi, serta memiliki pemimpin yang tidak memiliki visi yang kuat. Kehadiran pemimpin visioner dalam organisasi dakwah, akan mampu membawa dakwah selalu eksis di tengah pergumulan persoalan lokal, nasional maupun internasional.

Istilah pemimpin visioner (visionary leaders) sudah banyak dikemukakan oleh para pakar leadership. Menurut Corinne McLaughlin (2001), pemimpin visioner adalah mereka yang mampu membangun ‘fajar baru’ (a new dawn); bekerja dengan intuisi dan imajinasi, penghayatan, dan boldness. Mereka menghadirkan tantangan sebagai upaya memberikan yang terbaik untuk organisasi dan menjadikannya sebagai sesuatu yang menggugah untuk mencapai tujuan organisasi.

Para pemimpin visioner bekerja dengan kekuatan penuh dan tercerahkan dengan tujuan-tujuan yang lebih tinggi. Pandangannya jauh ke depan, melewati batas-batas pandangan masyarakat pada umumnya. Mereka adalah para social innovator, agen perubah, memandang sesuatu dengan utuh (big picture) dan selalu berfikir strategis.

Sepuluh Kompetensi

Ada berbagai kompetensi yang harus dimiliki oleh para pemimpin visioner.  Menurut Barbara Brown, paling tidak diperlukan 10 (sepuluh) kompetensi untuk menjadi pemimpin visioner.

1.    Visualizing.  Pemimpin visioner harus mempunyai visi atau gambaran yang jelas tentang apa yang hendak dicapai dan kapan hal itu akan dapat dicapai. Organisasi dakwah harus dibangun dengan gambaran-gambaran kondisi ideal yang diinginkan, dan kapan waktu yang ditetrapkan untuk mencapainya.
2.    Futuristic Thinking. Pemimpin visioner berpikir jauh ke depan. Ia tidak hanya mengetahui posisi organisasi pada saat ini, tetapi lebih memikirkan posisi yang diinginkan pada masa yang akan datang. Organisasi dakwah harus memiliki posisioning yang jelas pada masa yang akan datang, bukan sekedear lima tahunan, tetapi bisa mencapai waktu tiga puluh tahun, lima puluh tahun bahkan lebih.
3.    Showing Foresight. Pemimpin visioner adalah perencana yang dapat memperkirakan masa depan. Dalam membuat rencana tidak hanya mempertimbangkan apa yang ingin dilakukan, tetapi mempertimbangkan teknologi, prosedur, manajeman organisasi dan faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi rencana.
4.    Proactive Planning. Pemimpin visioner harus menetapkan sasaran dan strategi yang spesifik untuk mencapai sasaran tersebut. Ia mampu mengantisipasi rintangan potensial dan bahkan mampu mengembangkan rencana darurat untuk menanggulangi rintangan itu.
5.    Creative Thinking. Dalam menghadapi semua tantangan, pemimpin visioner berusaha mencari alternatif jalan keluar yang baru dengan memperhatikan isu, peluang dan masalah. Pemimpin visioner akan mencurahkan segenap kemampuan untuk menghadirkan berbagai kreasi untuk membangun kemanuan organisasi.
6.    Taking Risks.  Pemimpin visioner berani mengambil resiko, dan menganggap kegagalan sebagai peluang bukan kemunduran. Organisasi dakwah akan selalu berhadapan dengan tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Pemimpin visioner mampu membuat kalkulasi ketika harus mengambilo keputusan yang berdampak kepada resiko yang akan ditanggung organisasi.
7.    Process alignment. Pemimpin visioner mengetahui bagaimana cara menghubungkan sasaran dirinya dengan sasaran organisasi. Ia dapat dengan segera menselaraskan tugas dan pekerjaan setiap bagian, pada keseluruhan tatanan organisasi. Keserasian kerja seluruh bagian adalah syarat penting keberhasilan organisasi dakwah.
8.    Coalition building. Pemimpin visioner menyadari bahwa dalam rangka mencapai sasaran dirinya, dia harus menciptakan hubungan yang harmonis baik ke dalam maupun ke luar organisasi. Dia aktif mencari peluang untuk bekerjasama dengan berbagai individu, instansi dan  kelompok. Organisasi dakwah tidak bisa mencapai tujuannya sendirian, namun harus berkolaborasi dan bekerja bersama dalam bingkai kebhinnekaan.
9.    Continuous Learning. Pemimpin visioner terus menerus belajar, tidak pernah berhenti menambah ilmu pengetahuan, dengan teratur mengambil bagian dalam pelatihan dan berbagai jenis pendidikan lainnya, baik di dalam maupun di luar organisasi. Pemimpin visioner mampu menguji setiap interaksi, negatif atau positif, sehingga mampu mempelajari situasi yang berkembang.
10. Embracing Change. Pemimpin visioner mengetahui bahwa perubahan adalah suatu bagian yang penting bagi pertumbuhan dan pengembangan. Ketika ditemukan perubahan yang tidak diinginkan, pemimpin visioner dengan aktif menyelidiki jalan yang dapat memberikan manfaat pada perubahan tersebut.
Demikianlah sepuluh kompetensi yang diperlukan untuk menjadi pemimpin visioner. Kepemimpinan yang sangat diperlukan untuk mengembangkan organisasi, perusahaan, lembaga pemerintahan, maupun negara.



Share on Google Plus

About PKS Banguntapan

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Poskan Komentar