News Update :
Bismillah, dengan Do'a dan Kerja Keras, PKS Siap Raih 3 Besar

Populer

Kolom Tausiyah

Hajah Rohmah : Semoga PKS menang, jaya terus!!!

Selasa, 18 Maret 2014








Jakarta (16/3)- Dari berbagai macam kalangan yang hadir pada kampanye PKS di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, ada sepasang suami istri lanjut usia yang tetap bersemangat mengikuti kegiatan tersebut. Haji Muhammad Nuh dan Hajah Siti Rohmah yang berusia sekitar 60 tahun berangkat sejak jam 7.00 pagi untuk dapat hadir di kampanye yang bertema “Kobarkan Semangat Indonesia” tersebut.
Pasangan ini berasal dari Pisangan Timur, Jakarta Timur. Mereka naik bus bersama dari Terminal Rawamangun sejak pagi hari. Haji Nuh mengatakan dirinya dan istrinya akan mengikuti kampanye ini sampai selesai, “Iya, mau ikut, tapi ini Ibu mau ngaso dulu,” ungkap Haji Nuh yang disambut senyum oleh istrinya. Di tangga menuju tribun, mereka beristirahat sambil membuka kantong plastik berisi makanan ringan yang disiapkan sejak dari rumah.
Tidak hanya mengikuti kampanye PKS, pasangan yang selama berada di GBK selalu bersama ini juga mengungkapkan aspirasi dan harapannya terhadap calon-calon presiden PKS yang tergolong muda, yaitu Hidayat Nur Wahid, Ahmad Heryawan, dan Anis Matta.
“Kita berharap anak muda kita semangat. Semoga mereka bisa jadi pemimpin yang pintar dan jujur. Kalau kurang pintar, bisa dikibulin orang, tapi mesti pintar dan jujur! Kejujuran pangkal utamanya.” ungkap Haji Nuh bersemangat.
Istri Haji Nuh, Hajah Rohmah juga menyampaikan aspirasinya. Sedikit berbeda dengan suaminya, dia menyampaikan pendapat optimis. “Semoga PKS menang, jaya terus. Saya yakin partai ini menang. Pemimpinnya yang punya ilmu agama,” tutup Hajah Rohmah.
 



 
----------------------------------------------------------------------------------
Dikabarkan oleh PKS Banguntapan untuk Indonesia Bagi pengguna Android, dapatkan Web Launcher kami di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wPKSBanguntapan

Seruan Syukur #Ust Musyafa Ahmad Rahim






Musyafa Ahmad Rahim
KaBid Kaderisasi DPP PKS


لك الحمد يا رب العالمين

Itulah kata yang perlu berkali-kali kita ucapkan, betapa berbagai anugrah telah Allah limpahkan kepada kita selama pelaksanaan kampanye akbar tadi, yang diantara anugrah itu: 

a. Kita, biidznillah, berhasil "memutihkan" GBK di saat banyak upaya penggembosan dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.

b. Cuaca yang sangat cocok selama acara di GBK, selalu mendung dan sempat hujan lembut saat orasi Presiden PKS, hujan yang sangat menyejukkan.

c. Suasana yang aman terkendali, sehingga kampanye serasa rihlah keluarga besar PKS.

Dalam rangka mengamalkan hadits nabi:
يشكر الله من يشكر الناس
 
Maka, kami mengucapkan beribu terima kasih dengan ucapan: jazakumullah khairal jaza' kepada:
a. Seluruh panitia pelaksanaan kampanye, mulai dari panitia pusat, wilda, wilayah, daerah, cabang, ranting dan kordinator RT-RW yang telah bekerja siang malam mempersiapkan pelaksanaan kampanye ini, semoga jerih payah antum semua menjadi pemberat timbangan kebaikan antum di akhirat.

b. Seluruh ketua Unit Pembinaan Kader, semua kader, simpatisan dan pecinta PKS, semoga kesertaan, kehadiran, keterlibatan dan peran serta antum semua menjadi nilai tarbawi yang membawa manfaat dan berkah fid-dini wad-dun-ya wal akhirah.

c. Seluruh aparat yang bertugas; polisi, security, birokrat, petugas kebersihan dan siapa saja yang ikut serta mensukseskan acara kampanye akbar tadi, semoga seluruh kerja kalian menjadi bagian dari sumbangan untuk Indonesia yang lebih baik di masa mendatang.

Kampanye tadi bukanlah puncak dan akhir perjuangan kita, sebab di hadapan kita telah menunggu kerja-kerja yang dituntut lebih fokus, intens, konsisten dan pantang menyerah, oleh karena itu jadikan: "faidza faraghta fanshab" sebagai motto kerja kita, semoga Allah SWT semakin menambahkan taufiq, hidayah dan ri'ayah-Nya kepada kita semua, amin.

 

---------------------------------------------------------------------------------- Dikabarkan oleh PKS Banguntapan untuk Indonesia Bagi pengguna Android, dapatkan Web Launcher kami di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wPKSBanguntapan

Anis Matta Apresiasi Perjuangan Kader PKS DKI



Malam ini semua Ketua DPC PKS se-DKI Jakarta diundang makan malam oleh Presiden PKS Anis Matta sebagai apresiasi keberhasilan DKI memutihkan Jakarta dan memenuhi GBK. Dalam pengantar makan malam Anis Matta menyatakan beberapa poin sebagai berikut :

1.Memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada ikhwan-akhwat DKI dan korlap-korlap yang telah bekerja keras untuk memenuhi GBK.
2.Kampanye GBK telah merubah persepsi publik thd PKS.
3.Bahwa PKS ternyata tidak lemah...GBK membuktikan.
4.Konstelasi peta politik berubah dahsyat...PKS di DKI sudah masuk 3 besar, hasil survey beda 2% dibawah PDIP.
5.Namun perjuangan belum selesai, GBK hanya awal...target di DKI menang, karena kemenangan DKI akan merubah konstelasi pilpres.
6.Semua partai berfikir ulang ketika menghadapi PKS...PDIP dan Jokowi akan berupaya menang di DKI, kalau PDIP kalah di DKI itu pukulan besar buat PDIP dan pencapresan Jokowi.
7.Ikhwah di DKI dan selruh indonesia harus melipatgandakan kekuatan untuk memenangkan PKS di DKI.
8.Seluruh lembaga survey  dengan jujur mengatakan kepada Ust Anis bahwa trend survey PKS terus naik...
9. Hasil survey  PKS kini telah menempati 3 besar di DKI, Jatim, Kaltim...
10.Kemungkinan PKS menang lebih besar peluangnya di DKI daripada di Jawa Barat.

 

---------------------------------------------------------------------------------- Dikabarkan oleh PKS Banguntapan untuk Indonesia Bagi pengguna Android, dapatkan Web Launcher kami di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wPKSBanguntapan

Anak Muda dan Politik

Selasa, 08 Oktober 2013

PKS Banguntapan- berikut twit yang dikutip dari akun @gmpro_pks.

Anak muda dan politik.

Mau ngetwit soal politik, kebetulan lagi kuliah politik neh..

Politik itu fitrah manusia, seiring fitrah untuk hidup secara berkelompok.

Dalam kelompok akan ada orang yg berpengaruh dalam kelompok, kita angkat dia sbg pemimpin.

Kepemimpinan itu seni mempengaruhi orang.

Ada pemimpin, maka ada kewenangan. Ada kuasa yg dipegang.

Untuk apa? Untuk mengatur, mengelola kelompok agar mencapai tujuan berkelompok.

Dan politik secara luas sudah ada dlam hal itu,  politik diartikan sebagai seni mengelola manusia.

Dengan kuasa, orang bisa menetapkan hukum yg mengatur kepentingan umum.

Ada kewenangan legislatif, eksekutif, yudikatif. Yg paling umum.

Kekuasaan itu menggoda. Maka banyak yg memperebutkan.

Perebutan kuasa ini yg sering ditampilkan. Padahal kuasa bukan tujuan utama politik.

Perebutan, saling sikut, saling hantam, ini yg membuat politik terkesan berbahaya -anis matta'

Anis matta, "tabiat manusia menjauhi hal yg berbahaya. Maka tampilkan plitik yg pnh cinta."

Cinta, tema yg paling universal dan inspiratif.

Kita lalu ke menyoal anak muda. Tadi sekilas soal politik.

Anak muda populasinya paling besar di indonesia.

Anak muda sifatnya kreatif, dinamis, serta energik.

Anak muda sekarang dengan kemajuan tekologi, sangat jauh berbeda dengan anak muda dulu.

Bagaimana mendekatkan politik pada anak muda? Yang mulai apatis pada politik.

Perlu kreativitas yg berbasis pada pembacaan sosiologis yg tepat.

Tak bisa dengan cara lama. Mendekatkan politik harus dengan cara something new and different.

Bagaimana caranya? Cara belajar yg plg mudah; amati lalu coba, eksperimen.

Apa sih yg jadi trend kelakuan anak muda sekarang? Apa sih yang dimaui anak muda pada partai politik?

Berakhir pada sebuah tanya yg jadi PR kita semua :D

Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak,
Harapan adalah karena aku akan tetap melakukan sesuatu -rendra-

Oleh : @gmpro_pks

Ikhlas Bekerja Memenangkan Pemilu

Minggu, 06 Oktober 2013

PKS Banguntapan- Apakah modal utama bagi kader untuk bekerja di kancah politik praktis meraih kemenangan dalam Pemilu Legislatif 2014? Tentu sangat banyak modal yang telah dimiliki kader, dan dengan itulah mereka terus menerus bekerja tanpa peduli posisi dirinya sebagai apa dalam perhelatan Pemilu kelak. Namun saya akan mengajak melihat satu modalitas utama yang harus ada dan harus terus menerus dijaga oleh seluruh kader, yaitu modal ikhlas.

Ikhlas Itu Bekerja Karena Allah

Sebagian kader mendapat amanah sebagai calon anggota legislatif (caleg), sebagian yang lain mendapatkan amanah sebagai pengurus Partai, sebagian yang lain mendapatkan amanah melakukan dakwah ‘amah ke berbagai lapisan masyarakat. Bagian terakhir inilah yang berjumlah paling banyak. Bukan caleg, bukan pengurus partai, namun mereka adalah kader yang terus menerus konsisten melakukan kegiatan dakwah dan menebar kebaikan di tengah kehidupan masyarakat.

Masyarakat umum berpandangan, pekerjaan memenangkan Pemilu itu adalah tanggung jawab para caleg, karena mereka yang kelak akan “menikmati hasilnya”. Logika itu tidak berlaku di kalangan kader. Semua kader bekerja keras berupaya memenangkan Pemilu, tanpa berpikir apakah dirinya caleg atau bukan. Tanpa berhitung apakah “caleg jadi” atau tidak. Semua kader mengerti, bahwa memenangkan Pemilu adalah ibadah li i’la-i kalimatillah.

Bekerja dalam konteks ibadah inilah yang memberikan kekuatan moral yang luar biasa pada semua kader. Semua bekerja untuk Allah, bekerja karena Allah, bukan untuk mendapatkan kursi, bukan untuk mendapatkan kekuasaan, bukan untuk mencari kekayaan dan keterkenalan pribadi. Bukan pula hanya bekerja karena menjadi caleg. Caleg atau bukan, itu hanya bab pembagian amanah. Tidak ada kamus berebut amanah, yang ada adalah kesiapan melaksanakan amanah sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Sebagai wujud dari kecintaan kepada Allah.

Inilah makna ikhlas. Jika memang ikhlas, maka upaya memenangkan Pemilu 2014 adalah bekerja untuk Allah, bekerja karena Allah, bekerja di jalan Allah. Bukan orientasi individu, bukan motif pribadi, bukan gila kekuasaan dan kehormatan.

Ikhlas Itu Semangat dan Kerja Keras

Sangat aneh jika orang bekerja untuk Allah dilakukan dengan kemalasan dan bersantai-santai. Bagaimana mungkin kader yang mengerti ma’na syahadatain, ma’rifatullah, ma’rifatur rasul, haqiqatul iman, dan berbagai pemahaman dasar lainnya, tidak memiliki semangat untuk bekerja di jalan Allah? Bagaimana mungkin kader yang mengerti jalan dakwah para Rasul, mengerti hambatan dan tantangan di sepanjang perjalanan mujahid dakwah, masih bermalas-malasa melaksanaka aktivitas memenangkan Pemilu 2014?

Sebagian kader masih ada yang berkata tidak tepat, “Kok ambisius banget sih, menang Pemilu atau tidak, semua sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Jadi, untuk apa kerja serius, santai sajalah...” Bagaimana bisa santai, melihat persoalan umat yang sedemikian banyak untuk diselesaikan? Bagaimana bisa santai, melihat berbagai PR perbaikan masyarakat, bangsa dan negara yang masih menumpuk?

Jika memang ikhlas, artinya kita siap kerja keras. Kerja ini bukan untuk seseorang, bukan untuk mencapai jabatan dan kekayaan personal. Kerja ini untuk Allah, karena Allah, bagaimana bisa malas ? Jika memang ikhlas, tunjukkan dengan semangat dan kerja keras. Ikhlas itu tampak dalam semangat dan kerja keras.

Ikhlas Itu Tenaga Berlipat Ganda

Justru karena orientasi pekerjaan ini tidak bercorak pribadi, maka energi yang muncul menjadi tidak terbatas. Orientasi kerja dalam pemenangan Pemilu adalah ibadah, kerja untuk Allah, menebar kebajikan di berbagai bidang kehidupan, meretas jalan peradaban, menguatkan upaya pelaksanaan misi kemanusiaan dan dakwah. Semua kader menyimpan energi potensial luar biasa besarnya untuk melakukan semua pekerjaan itu.

Menjaga keikhlasan dalam niat, dalam langkah, dalam cara, dalam upaya, dalam kerja dan do’a, akan membuat tenaga kader tidak ada habisnya. Jika bekerja semata-mata karena ingin mendapat posisi, kekuasaan, kekayaan, keterkenalan dan orientasi pragmatis lainnya, maka akan cepat membuat lelah, cepat memunculkan fitnah, cepat menyulut konflik, cepat merusak ukhuwah, cepat melemahkan jama’ah. Tenaga terkuras sia-sia, tanpa ada hasil yang bisa dibanggakan di hadapan-Nya.

Banyak kader, bukan caleg, bukan pengurus Partai, rela mengeluarkan dana, rela mengorbankan waktu dan tenaga, rela menyumbangkan berbagai fasilitas yang dimilikinya demi kesuksesan pemenangan Pemilu 2014. Mereka ini memiliki tenaga berlipat ganda, karena keikhlasan yang terpatri dalam jiwa. Bahkan banyak yang bekerja di tengah kesunyian yang mencekam, tanpa diliput media, tanpa disebut namanya, tanpa muncul di publik, namun kerja dan kontribusinya luar biasa. Tentu saya tidak boeh menyebut nama maupun identitasnya.

Ikhlas Itu Tetap Bekerja Walau Dicela

Kader tidak mencari sensasi, juga tidak mengharap selalu dipuji. Kader akan tetap bekerja walau dicela dan dicaci maki. Energi yang dimiliki kader bukanlah karena pujian. Jika bekerja karena ingin mendapat pujian, maka begitu celaan lebih sering didapatkan, matilah semangatnya. Matilah amal kebajikannya. Matilah upaya pemenangan pemilu dan mati pula cita-cita.

Membaca media tentu bagian dari kebutuhan dakwah, namun begitu media sedang dipenuhi kesumat dengan celaan dan cacian, tidak akan menyurutkan semangat kader untuk bekerja. Ikhlas itu artinya tetap bekerja walau dicela, karena kader memahami kerja yang dilakukan tak selamanya berbuah pujian dan sanjungan. Tak sedikit kerja kebaikan yang diapresiasi media dengan cemoohan dan celaan.

Tetaplah bekerja karena itulah komitmen kita. Bekerja untuk Indonesia, bekerja untuk perbaikan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Bekerja untuk tercapainya tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bekerja untuk menuju peradaban mulia. Bekerja di jalanNya, karenaNya dan untukNya. Bekerja senantiasa, tanpa jeda, tanpa batas masa.

Harapan itu selalu ada, selama kita di jalanNya.

Yogyakarta, 4 Oktober 2013, Cahyadi Takariawan

Bersetia Dengan Iman

Jumat, 04 Oktober 2013

Bacalah dan renungi ayat ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang." (QS. Al-Mumtahanah, 60: 1).

Sebagaimana shalat dan puasa, kita harus memiliki wala' wal bara' yang jelas dan kuat. Jika keduanya tak ada dalam diri kita, kita perlu bertanya pada diri sendiri, "Benarkah kita masih beriman kepada Allah Ta'ala dengan sesungguh-sungguh iman? Adakah kita bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa?"

Wala' wal bara' dasarnya adalah iman Islam. Bukan fanatisme golongan. Kita bergandengan tangan karena seaqidah, bukan sekadar karena sama-sama satu harakah. Satu kelompok.Dimanapun kita berkiprah dan terlibat dalam kemaslahatan bersama, kita harus berjuang menghindari ashabiyah sehingga tak ada yang lebih penting daripada tegaknya Islam. Bukan sekadar berkibarnya bendera organisasi tempat kita berkiprah.

Jika tak berhati-hati, ashabiyah dapat menggerogoti iman kita. Tampaknya kita makin bersemangat terhadap Islam, tapi makin buta terhadap kekeliruan dan bahkan penyimpangan yang terjadi pada organisasi atau guru-guru kita. Bahkan boleh jadi kita justru mengabaikan kesalahan.

Bersebab ashabiyah, kita dapat memusuhi saudara seiman yang tak sepaham, tapi berjabat erat dengan yang tak seiman. Na'udzubillah min dzalik. Jika ini terjadi, kita bukannya menjadi pendukung dakwah. Justru sebaliknya, menjadi perintang terdepan tanpa merasa bersalah. Di beberapa daerah pusat pemurtadan, penolong orang-orang yang memurtadkan itu justru kaum muslimin yang merasa kepentingannya terganggu. Tetapi yang lebih mendasar lagi, itu bermula dari ashabiyah (fanatisme kelompok) yang dibiarkan tumbuh dalam dirinya.

Inilah yang perlu kita renungi di hari-hari ini. Inilah yang perlu kita pikirkan agar kita tak terjatuh pada kebanggaan terhadap firqah-firqah (kelompok-kelompok), sedemikian rupa sehingga kepentingan agama ini justru tersisihkan.

Maka, jika ada saudaramu yang tak sependapat denganmu, janganlah engkau menyeringai kepadanya seakan engkau tak pernah bersalah sekali pun. Sekiranya ada perbedaan pendapat, berlapanglah dada menerimanya. Ada penyimpangan pendapat karena bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah, ingatkanlah. Penyimpangan memang tak dapat kita toleransi. Tapi ini kadang terjadi bersebab ketiadaan ilmu atau terhentinya amru bil makruf dan nahy munkar. Maka ingatkanlah mereka, luruskan dan bahkan bila perlu berilah peringatan. Tetapi jangan tergesa-gesa menghakimi mereka. Sungguh amat berat konsekuensi dari tafsiq (menuduh seseorang sebagai fasiq), tabdi' (menghakimi seseorang sebagai ahlul bid'ah), takfir (memvonis kafir), tadhlil (menghukumi sebagai sesat) ataupun melaknati seseorang atau kelompok. Bukan berarti kita tidak boleh tegas. Bukan. Bahkan kita harus tegas. Tetapi janganlah itu menjatuhkan kita pada sikap tergesa-gesa.

Mari kita ingat sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam dan renungi:

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

"Lelaki mana saja yang mengatakan kepada saudaranya (sesama muslim), ‘Wahai kafir!’, maka perkataan itu akan kembali ke salah satu dari keduanya." (HR. Bukhari & Muslim).

Ini bermakna, jika kita asal menuduh atau tergesa-gesa menjatuhkan vonis, boleh jadi justru tuduhan itu kembalinya kepada kita. Na'udzubillahi min dzaalik.

Oleh: Moh. Fauzil Adhim

Berita PKS

Opini

Kolom Khasanah

Kolom Budaya

 

© Copyright PKS Banguntapan : Bangkit Menata Peradaban 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.